kisah sumur yang menumbuhkan ilalang bersuara
[image source]
Setelah kedatangan Wahid ke padang gembala, dari dalam bibir sumur itu tumbuh rumput liar. Suatu hari, seorang gembala yang sedang menggunakan sumur itu melihat rumput dari dalam sumur, lalu mencabut sebatang alang-alang. Dengan membuat beberapa lubang pada batang alang-alang tersebut, berarti dia telah menciptakan instrumen musik sederhana untuk menghibur dirinya. Dia membuat seruling.

Betapa kagetnya gembala tersebut, sebab ketika dia meniupnya, seruling buluh alang-alang itu mengeluarkan melodi yang aneh. Suara yang keluar dari seruling tersebut terdengar seperti kalimat, “Alexander Agung bertelinga gajah.

* * *

Kebetulan saat itu Alexander sedang melewati padang tersebut, ketika ia mendengar kata-kata, “Alexander Agung bertelinga gajah.“, dia mengikuti suara musik itu, dan sampailah ia di tenda tempat berteduh si gembala.

Di dalam tenda tersebut terlihat gembala yang dengan riang memainkan seruling buluh alang-alangnya. Karena marah, Alexander langsung menangkap dan membawa si peniup seruling batang alang-alang tanpa penjelasan.

Di istana, sang raja menanyainya dengan sikap yang keras tentang di mana dan dari mana dia mendengar lagu itu. Gembala yang ketakutan itu menceritakan tentang sumur dan alang-alang, dan bersumpah bahwa dia tidak tahu sama sekali mengapa serulingnya bersuara seperti itu.

Tidak masuk akal!” ucap sang raja mendengar cerita tersebut. Sang raja berpikir bahwa gembala itu pasti teman Wahid, sebab hanya Wahid yang tahu rahasianya. Ketika dipanggil, Wahid tidak punya pilihan lain kecuali mengatakan yang sebenarnya: “Hamba bersumpah, hanya sekali itu hamba mengungkapkan rahasia paduka, yaitu saat hamba meneriakkannya ke dalam sumur di padang gembala.

Engkau berteriak ke dalam sumur?” tanya sang raja heran. “Kenapa pada sebuah sumur?

“Karena hamba tidak kuat menahan tekanan untuk menyimpan rahasia tersebut. Dan karena hamba tidak dapat mengatakannya kepada siapa pun, hamba kira sebuah sumur adalah yang paling dapat dipercaya.”

* * *

Supaya adil, Alexander mengutus seseorang pergi ke sumur itu, dan mencabut sebatang alang-alang yang lain. Ketika alang-alang tersebut dibawa ke hadapan Alexander, ia menyuruh si gembala untuk membuat seruling dari batang ilalang tersebut. Saat Alexander meniup seruling itu, terdengar irama, “Alexander Agung bertelinga gajah.

Sejenak Alexander terpekur, kemudian berkata, “Biarkan gembala ini pergi.” Lantas dia menatap Wahid sambil tersipu malu. “Engkau boleh tetap jadi tukang cukurku jika engkau mau.

Setelah kejadian itu, Alexander memanggil pelukis kaligrafi terbaik di kota untuk menuliskan sebuah kalimat dengan tinta emas. Dia menggantung tulisan tersebut di depan ranjangnya, tempat pertama yang dilihatnya setiap pagi. Kalimat itu berbunyi :

Ingatlah selalu, bahwa sahabat kepercayaan terbaik adalah dirimu sendiri; karena sumur sekalipun bisa menjadi penghianat di belakang ketidaktahuanmu.

Pembaca budiman selalu Like & Share...