Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitabNya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu udah menghina Tuhan.
Sujiwo Tejo

Pada masa-masa awal pengabdian saya di Karaton, memang banyak sekali hal membingungkan yang tidak saya pahami. Tanpa Ami sebagai teman diskusi, tanpa penghasilan sepeserpun!!! Berkali-kali saya sempat dibuat frustasi. Tapi lama kelamaan, saya mulai belajar memulai segala sesuatunya dari nol.

Peluang ternyata tidak berhenti bermunculan, sahabat-sahabat lama saya di Subang mulai muncul satu per satu, dan kami mulai belajar bagaimana membangun bisnis ditengah jadwal kami yang, impossible, sangat padat sekali. Setelah itu, kami pelan-pelan bahkan bisa memulihkan bisnis saya yang lama.

Alhamdulillah, bisnis tersebut sekarang tengah mulai kami nikmati kembali.

* * *

Nah, belum lama ini, saya dipertemukan kembali dengan guru kami, coach Ronald, dan beliau menjelaskan, bahwa tujuan kami ditelanjangi pada saat pelatihan dulu, adalah untuk menguji, apakah selama ini, kami survive karena percaya pada diri sendiri, ataukah karena bergantung pada segala fasilitas yang selama ini sudah terlanjur kami nikmati.

Malam itu, bisa teruji, bagi yang selama ini terlalu bergantung pada dompet dan gadget, pasti akan cukup kesulitan untuk mencapai sales target yang tinggi dengan waktu yang terbatas, sebab, tanpa disadari, ketergantungan kepada faktor-faktor eksternal itu, bisa melemahkan kepekaan kita untuk memaksimalisasi potensi internal yang selama ini telah kita miliki.

Sebelum bertemu coach Ronald, saya sebetulnya sudah dibuat cukup sadar, tentang apa yang selama ini coba diajarkan oleh paman saya.

Dengan menelanjangi saya hari itu, beliau mengajarkan,

Bahwa pada dasarnya, manusia sudah dilahirkan dengan perangkat yang lengkap; diri yang sempurna, lingkungan yang dibuat “bersujud” untuk membantu manusia menjalankan tugasnya, serta “jodoh” berupa pasangan-pasangan yang telah diciptakan Tuhan agar manusia dapat mencapai tujuan penciptaannya.

Jodoh dan pasangan itu bukan hanya istri/suami kita loh.

Nah, bahkan tanpa bergantung kepada apapun selain diri dan Tuhannya, manusia diberikan akal yang luar biasa untuk belajar bagaimana caranya bertahan hidup di dunia.

Kata siapa kalau tidak punya mobil kita tidak bisa hidup? Kalau kata Aa Gym zaman saya SMP dulu, “GAJAH aja segitu gedenya ga punya apa-apa hidup kok!” Apa karena ga punya mobil atau gadget gajah jadi kerempeng gitu? Hehehe.

Cara penyampaian coach serta paman saya, mengingatkan saya pada Sahabat Abdurrahman Ibn Auf (R.A), yang diajak Rasulullah untuk hijrah ke Madinah, tanpa membawa sedikitpun harta dan aset perusahaannya dari Makkah. Beliau kemudian ditawari istri serta modal dari Sahabat barunya di Madinah, tapi beliau menolak dan lalu berhasil memulai MULTINATIONAL CORPORATION yang pada akhir usia beliau, memiliki aset senilai Triliunan Rupiah, dan itu semua beliau mulai dari NOL, dari menjadi KULI PANGGUL di Pasar!!!

Dengan komunikasi yang baik, pembelajaran tanpa henti, keyakinan yang benar, serta kerjasama dengan orang-orang yang tepat, manusia bisa melakukan hal-hal yang luar biasa bahkan tanpa “modal” sekalipun.

Malam ini, mendiskusikan dua kejadian tersebut, saya dan istri kembali belajar,

Bahwa bisa jadi, selama ini, kami telah menjadikan dompet, gadget, dan kawan-kawannya, sebagai berhala, yang telah kami sandingkan dengan Tuhan sebagai sang pemberi rezeki.

Padahal, telah berpuluh-puluh, bahkan mungkin berjuta-juta kali, Sang Pemberi Rezeki, mengingatkan kami untuk tidak risau dengan kehidupan kami; tentang apa yang akan kami dapatkan di dunia. Sebab, bahkan bagi yang lupa mengabdi sekalipun, Tuhan tak pernah lupa membagi Rezeki; apalagi bagi yang rela bersimpuh dan mengabdi.

Aw, pertemuan dengan kebenaran itu, memang selalu “menyakitkan” ^_^
#‎Alhamdulillah‬

Rabi’ul Awal 1437

Ada yang mau ikutan ditelanjangi?

Pembaca budiman selalu Like & Share...