menikmai hidup dan mengarungi kehidupan dengan istri shalihah
Bermain panco dengan istri [image source]

By : Bezie Galih Manggala

Pada hari pertama pernikahan kami, saya bercerita banyak tentang pencarian-pencarian saya tentang kebenaran; bagaimana dulu saya mempelajari sejarah agama-agama selama di Perancis; alasan saya pulang ke Indonesia dan belajar bahasa Arab; alasan saya melakukan hal-hal yang bagi banyak orang, tidak mudah untuk dipahami; dan masih banyak lagi kisah-kisah yang saya alami dalam hidup saya.

Maklum, saya harus bercerita sebanyak itu karena memang saya dan istri tidak sempat pacaran sebelum kami menikah.

* * *

Saya mulai dekat dengan beliau kurang lebih pada bulan Mei tahun 2012, bulan Juni saya bilang bahwa saya ingin menikahi beliau, bulan Juli saya datang ke orang tuanya (SENDIRIAN!!!) untuk khitbah, Agustus perkenalan antar 2 keluarga besar, dan September pun kami resmi menikah dengan resepsi yang cukup sederhana.

Selama proses menuju pernikahan, tidak banyak hal yang bisa saya ceritakan pada beliau dikarenakan terbatasnya komunikasi; hubungan kami biasa-biasa saja, boro-boro langsung panggil ummi-abi atau papah-mamah pas zaman-zaman pacaran seperti pasangan-pasangan kekinian, lah waktu beli cincin pernikahan saja, saya cuma telpon beliau dengan bertanya, “Kak Ami, ukuran cincinnya berapa ya?”

“KAK AMI???”

Saking tidak dekatnya hubungan kami sebelum menikah, pernah beberapa minggu setelah menikah, Bapak mertua saya telpon ke HP istri saya, dan saya angkat, tanpa sengaja saya bilang, “Kak Ami-nya lagi di kamar mandi.” 😐

“KAK AMI???” -___-”

Yes, usia kami memang berbeda 5 tahun, dan istri saya jauh lebih, er.. “tua.”

Pada saat menikah, usia beliau sudah 27 tahun, dan saya baru 22 tahun. Pada saat itu, beliau sudah menjadi dosen yang punya pengalaman menjadi kepala prodi salah satu universitas di Jakarta dengan pendidikan S2, sementara saya pebisnis pemula (yang bisnisnya juga saat itu belum jelas), yang S1-nya saja sudah DUA KALI tidak lulus!!!

* * *

Banyak yang heran dengan pernikahan kami. Terutama Junior-junior istri saya yang rata-rata teman-teman seangkatan saya, (sebut saja, Scientia Afifah, atau Eliza Fardina), yang bertanya-tanya, “Kak Ami, Bezie kan masih kecil???”

Hahahaha. =))

Well, kembali lagi ke perbincangan kami di malam pertama tersebut.

Yang saya ingat sekali saya tanamkan pada benak istri saya saat itu adalah; bahwa tujuan dari kehidupan saya, most of it, adalah pencarian terhadap kebenaran.

Dan, bahwa berdasarkan pengalaman saya dalam menemukan kebanaran-kebenaran, most of the time, pertemuan dengan keping-keping kebenaran itu selalu, saya ulangi sekali lagi, SELALU, amat sangat menyakitkan.

 

Bersambung ke halaman berikutnya…

Pembaca budiman selalu Like & Share...