“Gimana mbak, program hamilnya sudah sukses?”
“Jadi kamu kapan nyusul? Anakku sudah mau lima lho…”
“Kok bisa kena kanker stadium empat, dulu awalnya gimana?”

Bagaimana perasaan Anda ketika sering “dicecar” dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut?

nasehat dan tatakrama bertanya MENAHAN DIRI UNTUK TIDAK BERTANYA

Tanya.

Seringkali, dalam hubungan sosial kita, yang menyakitkan bukanlah takdir yang kita terima. Melainkan pertanyaan yang diulang-ulang, dan kita harus menyiapkan senyum secerah bidadari untuk menjawabnya.

Bagi mereka yang belum kunjung hamil, pertanyaan soal program hamil dan ikhtiar apa saja yang sudah dilakukan, rasanya begitu membosankan. Hingga mengantar pada satu titik: Malas bertemu orang, karena pertemuan dengan orang hanya akan memancing tanya yang itu-itu saja.

Juga soal nikah. Kapan nikah? Sudahkah ada calon? Lama-lama jadi tidak lucu lagi jika ujungnya si penanya hanya akan mengeluarkan kalimat basa-basi “Makanya..jangan ketinggian pasang target..”

Bah! Jangankan pasang target, untuk bisa bertemu dan berelasi dengan lawan jenis saja serba mepet.

Atau soal penyakit. Kenapa bisa kena penyakit ganas. Kenapa anaknya menderita cacat bawaan. Kenapa, sejak kapan, awal ketahuan gimana, peluang hidupnya bagaimana?

Oh kawan.. andai kita ada di posisi itu barangkali memilih untuk mengunci pintu dan mengirim para penanya itu ke Timbuktu.

Saya pernah berada di posisi ini. Pasca keguguran dan secara mental belum siap dijenguk. Dengan terbuka saya menolak kunjungan kawan yang mengabari lebih dulu jika akan datang ke rumah. Saya pun berpesan pada suami agar tidak menerima tamu keluarga untuk sementara waktu.

Bukan saya tinggi hati. Tapi saya belum punya mental untuk mengulang jawaban atas pertanyaan, yang akan membuka lagi nyeri hati yang belum tuntas saya obati. Sementara pertanyaan itu, hampir tidak mungkin saya hindari.

Atau kini, saat kandungan saya masuk enam bulan, dan pertemuan dengan orang hampir selalu membawa tanya: “Cowok apa cewek?”

Barangkali lantaran dua anak saya lelaki semua, maka kehamilan keempat ini jadi begitu mengundang penasaran. Akankah saya beruntung (dapat anak perempuan) atau buntung (dapat anak laki-laki lagi)

Ajaibnya, si penanya seolah sudah punya jawaban sendiri atas pertanyaan tersebut.

“Sudah kelihatan belum?”
–“Apanya ya?” (celingak celinguk cari tukang sayur)

“Itu jenis kelamin bayinya.. cowok apa cewek?” (err… ada pertanyaan lain? Hari ini saya sudah 7 kali lho bu ditanya begini)
–“Oh itu.. cowok cewek sama saja bu, yang penting bayi dan ibunya sehat..” *muka datar

“Kalau cowok lagi apa nggak pusing?” (ya engga lah bu, momong anaknya sendiri kok pusing. Lha kalo momong anak situ, baru saya pusing)
–“Ya enggak lah.. ngapain pusing”

“Ini cowok lagi paling” *nyengir
–“Cowok lagi ya Alhamdulillah.. malah kalau lima cowok semua kebeneran, biar bisa bikin kelompok marawis.” *lalu melenggang keluar arena*

Percaya atau tidak, saya yang tadinya tidak ribut soal jenis kelamin, jadi terganggu juga dengan pertanyaan itu. Seolah tanpa punya anak yang lengkap jenis kelaminnya, hidup jadi begitu malang merana.

Apalagi jika si penanya gemes dengan jawaban saya yang tidak transparan. Akan berkomentar dengan:
“Kalo cowok lagi berarti masih ada PR” atau “kalo cowok lagi bikin terus sampai dapat cewek..”

Mueheheh… emang bisa ya bu, menentukan jenis kelamin seperti menentukan adonan bolu. Tinggal pilih mau dikasih pasta strawberry atau black forrest

Kalau saya saja terganggu dengan pertanyaan semacam ini, lalu apa kabar kawan-kawan yang jangankan memilih jenis kelamin, untuk hamil saja begitu sulit?

Ada yang menunggu 5, 10 hingga 15 tahun. Amunisi apa yang harus mereka siapkan untuk menjawab tanya? Mereka barangkali ikhlas, dan tetap menikmati hidup, tapi tanya-tanya itu akan tetap ada. Dan harus mereka jawab demi menyenangkan hati penanya dan memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Tidak pernah enak berada di posisi itu. Harus menjawab tanya saat tidak ingin ditanya. Atau saat tanya itu hanya akan membuka luka lama.

Tugas kita lah untuk mengerem mulut, lalu menahan diri untuk tidak bertanya. Apa guna? Hidup mereka bukan milik kita. Dan siapa tahu tanya penasaran kita malah hanya menyakiti saudara kita saja.

Memang benar, malu bertanya sesat di jalan.

Namun jika sepanjang jalan kita terus bertanya, hingga lupa tujuan, oh lidah ini sungguh tak bertulang kawan. Mana kita tahu setelah kita puas bertanya, dia pulang dengan tangis dan sedu sedan.

Mari, sama-sama menjaga adab dan rasa. Mari menahan diri untuk tidak bertanya.

 

Salam,
Wulan Darmanto

Judul asli : MENAHAN DIRI UNTUK TIDAK BERTANYA

Pembaca budiman selalu Like & Share...