Wawancara terhadap seorang pemuda untuk posisi manajer

Seorang anak muda mendaftar untuk posisi manajer di sebuah perusahaan besar. Dia lulus interview awal, dan sekarang akan bertemu dengan direktur untuk interview terakhir.

Direktur mengetahui bahwa dari CV-nya, si pemuda memiliki akademik yang baik. Kemudian sang direktur mulai mewawancarainya,
Apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah?
tidak,” jawab pemuda itu.
Apakah ayahmu yang membayar uang sekolah?” tanya sang direktur curiga.
Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, jadi ibu saya yang membayarkannya.
Dimana ibumu bekerja?
Ibu saya bekerja sebagai tukang cuci.

Kemudian sang direktur meminta si pemuda untuk menunjukkan tangannya. Si pemuda menunjukkan tangannya yang lembut dan halus. Lalu melanjutnya pertanyaanya.
Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju?
Tidak pernah, ibuku selalu ingin aku belajar dan membaca banyak buku. Selain itu, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dariku.
Baik, aku memiliki permintaan.” ucap direktur sambil agak ragu, lalu melanjutkan perkataanya, “Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cuci tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari.

* * *

Si pemuda merasa kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa heran, senang tetapi dengan perasaan campur aduk, dia menunjukkan tangannya ke anaknya. Sambil membersihkan tangan ibunya dengan perlahan. Air matanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan ibunya sangat berkerut dan banyak luka. Beberapa luka cukup menyakitkan ketika ibunya merintih ketika dia menyentuhnya.

Ini pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang setiap hari mencuci baju agar dirinya bisa sekolah. Luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya untuk pendidikannya, sekolahnya, dan masa depannya.

tangan melepuh karena sering mencuci baju

Setelah membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencuci semua pakaian tersisa untuk ibunya.
Malam itu, ibu dan anak itu berbicara panjang lebar.

* * *

Pagi berikutnya, si pemuda pergi ke kantor direktur. Si direktur menyadari ada bekas air mata di mata sang pemuda. Kemudian dia bertanya, “Dapatkah kamu ceritakan apa yang kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam di rumahmu?
Saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya.” Jawab si pemuda sambil terbata, “Saya sekarang mengetahui apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya mengetahui betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu sendirian. Saya mulai menyadari betapa penting dan berharganya bantuan dari keluarga.

Sang direktur menjawab, “Inilah yang saya cari di dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan dari orang lain, seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya.

Kamu diterima!” Ujar sang Direktur dengan mantap.

* * *

Seorang anak yang selalu dilindungi dan dibiasakan diberikan apapun yang mereka inginkan akan mengembangkan “mental ke-aku-an” dan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas. Dia akan tidak peduli dengan jerih payah orang tuanya. Apabila kita tipe orang tua seperti ini, apakah kita menunjukkan rasa cinta kita atau menghancurkan anak-anak kita?

Anda dapat membiarkan anak-anak Anda tinggal di rumah besar, makan makanan enak, les piano, menonton dari TV layar lebar. Tetapi ketika Anda memotong rumput, mintalah bantuan mereka agara mereka mengalaminya juga. Setelah makan, mintalah mereka untuk mencuci piring mereka sendiri. Ini bukan masalah apakah Anda dapat memperkerjakan pembantu atau tidak, tetapi ini karena Anda mencintai mereka dengan cara yang benar. Sehingga mereka mengerti tentang :

Tidak peduli seberapa kayanya orangtua mereka, suatu hari pasti mereka akan menua.

Yang terpenting adalah bagaimana agar  anak-anak Anda mempelajari bagaimana mengapresiasi usaha dan pengalaman mengalami kesulitan dan belajar kemampuan untuk bekerja dengan orang lain agar segala sesuatu terselesaikan.

Mari bagikan cerita ini ke orang-orang yang Anda kenal. Cerita ini mungkin dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Pembaca budiman selalu Like & Share...