Anak kelas 2 SD dari Papua yang sudah tinggal kelas 4 kali, jadi Juara matematika tingkat nasional, dan juara membuat robot!
Anak kelas 2 SD dari Papua yang sudah tinggal kelas 4 kali, jadi Juara matematika tingkat nasional, dan juara membuat robot! [image source]

By : Prof Yohanes Surya

Comfort is my enemy adalah semboyan dari orang-orang Sparta yang terkenal sangat gigih. Dalam film 300 terlihat bagaimana perjuangan 300 orang Sparta melawan ratusan ribu orang-orang Persia. Sebelum berperang, pahlawan Sparta ini gigih berlatih, push diri mereka ke limit (batas kemampuan). Mereka tinggalkan zona kenyamanannya.

Comfort is my enemy juga telah jadi semboyan mereka-mereka yang mencapai puncak prestasinya. Sebut saja Tiger Wood (golf), Mark Spitz (renang), Ali (tinju) dsb. Ali pernah berkata “I hated every minute of training but I said… Don’t Quit! Suffer now and live the rest of your life as a champion.

Saya benci latihan, tetapi saya tidak berhenti, menderita sekarang tapi hidup senang dikemudian hari.

Comfort is my enemy pernah jadi semboyan ketika China akan jadi tuan rumah olimpiade Beijing 2008. Delapan tahun sebelum jadi tuan rumah, China “menyiksa” (melatih dengan cara yang mungkin kita anggap kurang manusiawi). Namun hasilnya, China juara olimpiade 2008! Kebanggaan Asia mampu menembus dominasi Amerika Serikat!

Menurut penelitian, ketika kita push diri kita ke limit, maka potensi-potensi lain dari diri kita ikut berkembang. Ada banyak hal positif kita peroleh ketika kita push diri kita ke limit.

Beberapa perusahaan besar menerapkan semboyan ini, mereka menetapkan target yang sangat tinggi. Jack Ma pendiri Alibaba.com selalu memberikan target beberapa kali lipat lebih tinggi dari apa yang diusulkan eksekutifnya. Jika Anda tidak bekerja cukup keras Anda menjadi miskin. “If You’re Poor At 35, You Deserve It”.

Banyak orang protes melihat saya melatih siswa olimpiade Fisika. Para siswa belajar Fisika dari pagi hingga malam bahkan sampai jauh tengah malam. Siswa yang terbiasa di comfort zone, mungkin akan berkata “nggak bakalan gue masuk TOFI… kalau cara belajarnya begitu..”. Namun walaupun harus “menderita”, hasilnya manis. Dengan medali olimpiade fisika, kini para juara menikmati sekolah di top university seperti MIT, Harvard, Tokyo Univ dsb. Masa depan mereka lebih baik.

Menghadapi persaingan yang makin ketat (terutama menghadapi masyarakat ekonomi Asean), kita perlu budaya comfort is my enemy.

Sudah cukup keraskah kita bekerja/belajar hari ini?

Pembaca budiman selalu Like & Share...