fakta kemiskinan yang memicu kelainan otak
[image source]
Kemiskinan sangat berdampak negatif pada perkembangan otak anak. Para ilmuwan dari Washington University School of Medicine menemukan bahwa kemiskinan secara tidak langsung menyebabkan kelainan pada susunan konektivitas otak sehingga juga akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak.

Dalam penelitiannya, mereka memindai 105 otak anak yang masih berumur 2 hingga 7 tahun. Dari hasil pemindaian tersebut, mereka menemukan bahwa anak-anak miskin memiliki koneksi otak yang berbeda pada bagian hippocampus dan amygdala. Hippocampus adalah bagian otak yang memiliki peran sangat penting dalam proses belajar, mengelola stres, dan kekuatan daya ingat.

Berdasarkan hasil scan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging), ternyata makin miskin seseorang, maka hubungan antara hippocampus, amygdala, dan bagian otak lainnya semakin lemah. Hal ini bisa diakibatkan ketika anak-anak miskin usia dini (preschool) cenderung lebih rentan mengalami depresi ketika mereka sudah menginjak usia remaja dan mulai bersekolah. Bisa karena tekanan dari orang tua, dan tekanan dari keinginan yang tak terpenuhi.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa anatomi otak anak-anak miskin sedikit berbeda pada susunan hippocampus dan amygdala-nya,” kata Deanna Barch ketika jumpa pers, “Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa dengan struktur yang demikian, maka anak akan cenderung kurang bisa mengontrol emosi dan stres.”

Meskipun ada kelainan pada konektivitas otak, baik pada hippocampus dan amygdala, tapi para ilmuwan menyebutkan bahwa kelainan otak tersebut dapat dihindari dan sangat tergantung pada pola asuh dari orang tua mereka. Tapi ingat, jika sudah terlanjur mengalami kelainan, maka struktur otak tidak bisa diubah, yang bisa diubah adalah kemampuan anak dalam melakukan penyesuaian dengan otak tersebut sehingga tidak mudah stres dan bisa mengatur emosi dengan baik.

Sumber : The American Journal of Psychiatry

Pembaca budiman selalu Like & Share...