menuai inspirasi dari sosok kontroversial ulil abshar abdalla

Ulil, bukan main luar biasanya sosok yang satu ini. Sosok yang selalu tegak membatu dan pantang menyerah meski sebagian umat muslim mencela pemikiran dan ide-idenya. Pembaca yang budiman, ulasan ini tidak akan membahas tentang siapa benar siapa salah, tapi kita akan mengelupas sedikit tentang Ulil dari sisi yang tak lazim sehingga membuatnya layak untuk dijadikan inspirasi. Baik untuk para pendukung, lebih-lebih untuk Anda yang membenci (pemikiran) politikus muslim yang satu ini.

* * *

Jika anda aktif di social media dan mengikuti berita-berita seputar keislaman, maka Anda akan sering menemukan kecaman terhadap pernyataannya yang kerap menuai kontroversi. Terlebih lagi, Islam Liberal yang dikampanyekannya lebih banyak yang tidak sepemikiran dengan pemikiran mayoritas umat muslim di Indonesia. Apalagi head to head-nya dengan FPI (Front Pembela Islam) membuatnya semakin renyah dan mulus untuk disorot oleh media dan berbagai kalangan layaknya sinetron yang asyik untuk ditonton.

Selain keberadaannya sebagai pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang ditolak oleh berbagai kalangan di Indonesia. Ada banyak pernyataan dan pemikirannya yang menuai kritik, seperti anggapannya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir, perbedaan pendapatnya tentang ucapan natal, perlunya catatan kaki di Al-Qur’an, keraguannya terhadap kelengkapan dan keotentikan Al-Qur’an, menganggap semua agama memiliki esensi yang sama, Islam Nusantara, hingga LGBT. Bahkan yang terakhir adalah cuitannya di Twitter yang mempertanyakan tentang kenapa azab tidak kunjung turun bagi negara yang mendukung LGBT, semakin membuatnya menuai kecaman. Luar biasa!

twit ulil abshar abdalla di twitter tentang tantangan terhadap azab tuhan

Lantas, apakah dia menyerah hanya karena mendapat kecaman dan hinaan? Tidak!

Setelah sering mendapatkan kecaman masyarakat dan ormas islam, perlawanan dari FPI, pencekalan oleh pemerintah Malaysia, dicap sesat, dituding berzina, hingga mendapatkan teror berupa bom surat yang malah meledakkan salah satu perwira polisi, apakah Ulil menyerah dan bungkam dari pemikiran dan ide-ide kontroversialnya?

Tidak, ia tidak pernah menyerah!

Dengan demikian, satu hal yang bisa simpulkan dan kita petik dari sosok Ulil Abshar Abdalla:

Ia adalah militan hebat yang pantang menyerah meski seluruh negeri mengutuknya.

Dalam benak penulis, orang ini bukanlah orang sembarangan. Bahkan menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ulil berani mengusung paham Islam Liberal sebab ia telah melewati tahap penafsiran yang berdasarkan nash dan teks Alquran. Jika kemudian hasil penafsiran dan pemikirannya itu menimbulkan kontroversi di masyarakat, itu seharusnya disikapi dengan bijak.

Menurut Luqman, di masa Islam dahulu, para mufasir Alquran mengalami pertentangan pemikiran yang jauh lebih sengit dan tajam. Dalam sejarahnya, para ahli teolog dan fukaha atau ahli fikih saling berdebat keras namun tidak pernah sampai saling menegasikan. (republika.co.id)

Bahkan Gusdur menganggap orang ini mirip dengan Ibnu Rusyd (averoes) yang banyak menuai kritik lantaran ‘permainan’ logikanya. Berikut ini adalah kutipan dari tulisan beliau yang berjudul “Ulil dan Liberalismenya” dalam buku yang berjudul “Islamku Islam Anda Islam Kita”:

 

... Yang terpenting, penulis ingin menekankan dalam tulisan ini, bahwa Ulil Abshar Abdalla adalah seorang santri yang berpendapat, bahwa kemerdekaan berpikir adalah sebuah keniscayaan dalam Islam. Tentu saja ia percaya akan batas­batas kemerdekaan itu, karena bagaimanapun tidak ada yang sempurna kecuali kehadirat Tuhan. Selama ia percaya ayat dalam kitab suci al-Qur’ân: “Segala sesuatu musnah kecuali Dzat Allah (kullu syai’in halikun illa wajhah)” (QS al­-Qashash [28]:88), dan yakin akan kebenaran kalimat Tauhid, maka ia adalah seorang Muslim. Orang lain boleh berpendapat apa saja, tetapi tidak dapat mengubah kenyataan ini. Seorang Muslim yang menyatakan bahwa Ulil anti­-Muslim, akan terkena sabda Nabi Muhammad Saw: “Barang siapa yang mengkafirkan saudara yang beragama Islam, justru ialah yang kafir (man kaffara akhâhu musliman fahuwa kâfirun).”

Ulil dalam hal ini bertindak seperti Ibnu Rusyd (Averoes) yang membela habis­-habisan kemerdekaan berpikir dalam Islam. Sebagai akibat Averros juga di “kafir” kan orang, tentu saja oleh mereka yang berpikiran sempit dan takut akan perubahan­-perubahan.

 

Jika Anda adalah salah satu “pembenci” pemikiran Ulil (bukan pembenci orangnya), jangan bermimpi untuk “mengalahkan” Ulil jika Anda belum sekelas dengannya. Ia sudah kenyang dengan asam-asinnya kritik, bahkan teror bom tidak membuatnya goyah dan bungkam. Mungkin Anda yang mengecam hanya dianggapnya anak kecil yang tidak mau menerima pemikiran yang berbeda (bahkan berseberangan) dengan pemikiran mayoritas umat muslim.

* * *

Sebagai pengingat sekaligus sebagai penutup, satu kesimpulan inspirasi yang bisa kita rangkum dari sosok Ulil Abshar Abdalla yang getol dengan Islam Liberalnya yaitu :

Jadilah militan hebat yang pantang menyerah meski seluruh negeri mengutukmu.

Pembaca budiman selalu Like & Share...