Semoga kisah dan cerita ini membuat kita sadar bahwa permasalahan yang kita hadapi tidak ada apa-apanya dibanding keluasan hati kita. Sebab, sejatinya hati kita bisa menampung segala hal dalam hidup ini. Namun, kitalah yang mengerdilkan diri sehingga hati kita menjadi sempit dan mudah terpengaruh oleh masalah hidup. Oleh sebab itu, mari kita mengambil hikmah dari kisah di bawah ini. Kisah seorang murid yang tercerahkan tentang hidupnya yang penuh dengan masalah, kemudian menyadari bahwa persepsinya keliru.

Jangan sampai hatimu sempit seperti gelas
[image source]
Pada suatu pagi, seorang guru mendatangi salah seorang muridnya karena wajah sang murid belakangan ini selalu tampak murung.

Kenapa kau selalu tampak murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu itu?” sang Guru bertanya.

Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

Coba separuh dari garam yang kau pegang dimasukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

Asin, dan perutku jadi agak mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

* * *

seorang guru dan murid di pinggir danau

Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.

Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, membawanya ke mulutnya, lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?

Segar, segar sekali!“, kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?

Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

* * *

Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh ALLAH, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.

Si murid terdiam, mendengarkan.

Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.

Pembaca budiman selalu Like & Share...