Catatan seorang perempuan siapa suruh
Ilustras [Image source]
Perempuan mengandung anaknya dengan ikhlas, dan saat ia kesusahan, dijawab, “Siapa suruh?”

Melahirkan dengan cara apapun, rasanya tetap menyakitkan.
Dia bilang, “Siapa suruh?”

Belum hilang lagi nyeri melahirkan, ia harus menyusui dan mengurusi dirinya, anaknya, dan suaminya.
Catatan: jangan coba-coba mengeluh!
Kalau mengeluh, akan dijawab, “Siapa suruh?”

Kurang tidur, kurang istirahat, masih ditanya ngapain aja sampe rumah selalu berantakan?
Berusaha menjelaskan kalau si anak selalu minta gendongan, perlu perhatian.
Gak menghibur, gak memberi bantuan, lagi-lagi nanya doank, “Siapa suruh?”

9 bulan menahan godaan makanan,
Supaya anak terlahir sehat dan rupawan.
Bertahun-tahun hidup dengan badan acak-acakan.
Bertahan dengan uang pas-pasan, tanpa penghasilan tambahan.
Gak peduli payudara dan perut kedodoran.

Bersorak dalam daster ketika si Bapak dipromosikan.
Turut hadir ketika rumah baru diresmikan.
Turut senang ketika BPKB roda 4 terlunaskan.
Nyengar-nyengir gak pernah minta bagian.

Giliran nanti, sudah di-‘cap’ membosankan,
Dihina-dina bagai perempuan murahan.
Sengaja membuat istri terlihat memalukan.
Mengais-ngais pembenaran.
Mendustakan semua kenangan.

* * *

Ya.
Kami perempuan.
Jauh dari kesempurnaan.
Tidak selalu lemah lembut bagai bidadari kahyangan.

Saat kami kerepotan dan hilang kesabaran
Kami tidak minta bayaran.
Hanya perlu pengertian yang dihiasi dengan senyuman.

Bolehkah atas yang kami lakukan
Anda berikan sedikit saja penghargaan?

Hilang sudah 1.000 malam yang penuh pengorbanan.
Bila dia sudah bosan.
Satu kesalahan bisa berakhir pengusiran
Tak ada disana, yang menjadi milik seorang perempuan.

Bisakah darah dan daging kembali menjadi perawan?
Oh ya saya lupa…

“Siapa suruh?”
Katanya demikian.
Dijawab dengan sangat cekatan.

 

Please feel free to like and share.
Ga perlu ijin formal.. Makasi teman-teman…

Pembaca budiman selalu Like & Share...